May 9, 2015

That Faith #cerpen #novelet

Diposkan oleh nitahakeem di 9:46:00 AM
Reaksi: 
"Someone maybe always stay in your heart, but not in your life."





Chessy memberantakkan rambutnya di depan kaca mobil tempat ia sedang parkir seorang diri. Selagi berkunjung ke Landmark Mall di Surabaya Utara, ia melihat sesosok pria lama yg sudah menggandeng tangan wanita lain. Keinginan nonton The Hobbit pun sirna dan berganti haluan ke lahan parkir utk berpindah destinasi.

Tapi apa mau dikata mood pun terjun bebas. Seorang penulis rubrik solving remaja wanita itu akhirnya tidak bisa menyelesaikan masalah yg ada di hatinya.

***
"Kayaknya kita harus ganti kolom yg ini deh.." team leader majalah menaikkan alis melihat komposisi rubrik mereka setelah perayaan ulang tahun kedua puluh tahun.
"Aku pengen sesuatu yg baru..."
Chessy melamun di sudut meja sambil mendengarkan samar2 suara bos nya mencari ide baru.
"Ada rubrik yg perlu diganti chessy?"
Semua mata mengarah padanya.
"Oh! mungkin tanya jawab seputar masalah remaja bisa ditambah kuota?"
"It just nonsense chessy..." TL nampak tidak tertarik.
"Pikirkan yg lain,minggu depan kabari saya. Kalian juga." Lalu rapat berakhir.

***
Memang bener sih, kadang orang yang bilang enggak akan ninggalin kamu itu justru orang yg ninggalin kamu duluan. Dan begitulah namanya phrase, setiap motif seseorang berhubungan ada banyak frase dalam hidupnya. Katanya jangan kawatir dg "hard times" karena semua orang butuh grow up dari kesalahan dan sakit.

Chessy melongok dari meja cafe tempat dia membaca novel sejak satu jam yang lalu. Seorang pria sudah datang di depan dia memperkenalkan diri.
"Ya, chessy?"
"Iya... kamu ichwan kan?"
Mereka berbasa basi sebentar. "Sudah lama disini?"
Chessy menunjuk pada kopinya yg sudah habis segelas.
"Oh maaf tapi bukannya ortu kita janjian memang jam sgini?"
"Gapapa, aku emang suka in time..."
Pertemuan ini entah yang keberapa kali kalau Chessy bisa menghitung berapa teman lelakinya yang baru dari perjodohan orangtuanya sejak ia tidak bersama Andre -lelaki yg ia temui tempo hari di Landmark Mall-
"Kamu kapan siap nikah?"
Burssssttt! Chessy menyemburkan kopinya ke muka Ichwan.
Diantara para lelaki, ini yang paling ga masuk akal memulai pembicaraan.
Ichwan melap wajahnya yg lengket. "Sori kamu kaget ya."
"Kamu masih terlalu muda buat tanya itu tauu gaa..."
"Lah kenapa? aku 26... kalo ga salah kamu 24... udah cukup ah."
Chessy memutar matanya, ini lelaki antimainstream di jaman seperti ini.
"Kamu ga kepengen beli ninja 250? kamera slr terbaru? atau go pro 3 gitu mumpung masih muda?"
Ichwan tertawa mengejek, "Knp? kamu pengen?"
"Bukan gitu sih, cuma kan nikah itu butuh persiapan mental dan ego sama duniawi kudu dikesampingkan, aneh aja kamu masi segini, tau2 udah nanya nikah."
"Ya toh aku juga tau kamu ga akan jawab besok. Paling 2 taun lagi. Hahahahha."
Lalu entah kenapa Chessy jadi jengkel dengan lelaki ini.
****
Keesokannya ketika Chessy akan berangkat ke kantor di arah Mayjend Sungkono, pria itu muncul depan pagar rumahnya. "Hei, udah aku tungguin."
Chessy melongo. Tangannya menunjuk hidungnya dan hidung Ichwan dr jauh.
Chessy lalu menuju ke motor vario Ichwan yang hitam mulus macem habis dikilat.
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya?"
"Itu, dua taun lagi gimana...?"
"Apaan sih!" Chessy mengeplak helm Ichwan, masih tidak habis pikir orang ini gimana.
Sesampainya di kantor, Chessy memberi ultimatum,"Gausah begini lagi deh, aneh tau ga, kita baru kenal."
Ichwan berkata,"Iya ... tapi aku tau, orangnya kamu."
Arggghh... Chessy dongkol dalam hati. "Deh kamu tau apa sih ttg nikah ama relationship? kamu tuh cuma hasil dari jodohan mama aku aja, yg biasanya justru cuma jd temen.. jadi kamu mending ga perlu seniat ini. Aku blm berniat kok."
Ichwan menaikkan alis."Ya benar juga... hmm... "
Kok ini orang diem aja sih gumam ga ada bales omongan, Chessy makin kesel."Apa? respon dong respon maunya kamu gimana?"
Ichwan tersenyum tanpa menatap Chessy. "Maunya aku? i prefer losing my argument than losing you as my wishes partner."
Lalu motor berlaju kencang, meninggalkan Chessy yang masih terdiam menganga diantara debu jalanan surabaya yang naik ke permukaan.
***
"Jadii apaaa???" bos menunjuk2 anak buahnya yang tidak ada inisiatif baru untuk tender pemasangan iklan yg fresh dan rubrik kolom yang makin membosankan. Chessy makin stres di kantor. Dirumah pusing mikirin patah hatinya yang lama, di kantor pusing sama bos, di luar pusing sama Ichwan yang terus muncul.
Tapi setelah hari itu dimana Chessy bicara agak keras, lelaki itu mulai tidak kelihatan. Entah kenapa.
Dia tersinggung apa?
Katanya takut kehilangan. Kok ga muncul?
Chessy membenamkan kepalanya sendiri di wastafel kamar mandi. Mengutuki dirinya yang memikirkan lelaki baru itu.

Hari itu Chessy pernah berikrar pada dirinya sudah tidak berniat mencari lagi lelaki utk jadi pasangan hidup. Cukup capek dengan masa yg pernah ia rajut dg Andre, seseorang yg selalu bilang "aku ga akan ninggalin kamu." tapi ia justru yg pertama pergi. Seseorang pertama juga yang mengatakan ingin hidup bersama, tapi justru menghancurkan. 

Sometimes, Chessy benci jatuh cinta. Atau bahkan berpikir ia akan jatuh cinta itu nonsense.

Chessy melihat hp nya, kalau tidak salah ia pernah bertukar no telepon dg Ichwan.
***
Yang susah itu menahan gengsi untuk menghubungi lebih dulu. Chessy sudah mendarat di Cafe Dante Sutos dan duduk diantara sedikit orang yang ada disini jam makan siang. 
Hubungi enggak ya hubungi enggak ya. 
Ah enggak usah!
Chessy berbalik dan melihat sosok lelaki bernama Andre, dengan pacarnya. Andre menatapnya kebetulan juga dan menyapa.
"Heii!"
Chessy mengutuki matanya yg melihat berbalik ke belakang. "Sama siapa?"
"Sendiri aja."
"Mau makan siang sama2?" 
"Oh enggak , makasih udah dipanggil bos suruh balik hehe..."
Ini orang satu entah ga punya perasaan atau berasa ga pernah terjadi apa2 antara mereka, yg pasti Chessy ingin enyah dari sini.
Ia lalu beranjak pergi dan keluar menghubungi Ichwan, melupakan gengsinya yang tinggi.
"Kamu dimana?"
"Kantor. Ada apaan, tumben..."
Lalu telpon ditutup oleh Chessy. Ia bingung lagi, untuk apa menghubungi orang itu disaat hatinya kacau. Mencari perlindungan?
****

Bagaimana kamu masih bisa mencintai seseorang yg kamu khianati?

Bagaimana kamu masih bisa menatap dia tanpa terbayang kesalahanmu?

Dan bagaimana bisa Andre melakukannya, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa2 ketika mereka bertemu.

Chessy menatap layar beradiasi dengan mata memicing silau. Ia lupa kacamata ditinggal pada rak atas buku bacaan. Maka hari dimana ia bertemu Andre yg telah melakukan semua yg diatas itu membuat suasana hatinya makin buruk. Dan memikirkan bagaimana ia akan bersikap dg Ichwan, membuatnya makin buruk luar biasa. Apakah, apakah iya dalam dua tahun ke depan Ichwan tidak akan melakukan hal yang sama. Trauma itu jauh lebih besar daripada harapan utk menikah sama sekali.

***

Beberapa hari kemudian, hingga seterusnya Chessy menghentikan circle yang membuatnya harus bertemu Ichwan. Ia berusaha tidak berada di lingkar dimana Ichwan ada atau lewat. Membuat dirinya sibuk dan hilang begitu saja.

Ichwan seperti biasa selalu iseng ke rumah, tapi tidak bisa bertemu Chessy. Hingga saat tiba dimana Chessy memulai kopi daratnya dg jodoh dari mamanya lagi. Di sebuah cafe di bilangan klampis, De Mandailing sambil memesan Chicken Curry Katsu yg nomer satu rasanya, ia mengobrol dg seorang lelaki bernama Ega. 

Pembicaraan berangsur cocok. Tapi Chessy merasakan satu hal yang terlalu sama antara lelaki satu dengan lelaki lainnya kecuali Ichwan. Semuanya seru, Ichwan ga seru, tapi Ichwan kasih sesuatu yg baru di awal pertemuan. Yang rasanya Chessy takut menerka isi hatinya.

Maka semakin kamu memikirkan orang. Semakin itu pula kamu gatau kapan saja orang itu tiba2 muncul di circle kamu.

Ichwan pun datang bersama seorang lelaki, temannya, membuka pintu lobby De'mandailing. Matanya menyusur menatap ruangan dan menemukan mata Chessy membelalak.

Ichwan memberi isyarat ke temannya dan beranjak ke arah Chessy. Ia melihat lelaki disampingnya dan peka apa yang sedang terjadi. Perjodohan lagi.

"Mungkin aku sama aja yah sama lelaki yang dijodohin mama kamu. Tapi, seharusnya selama ini kamu ga perlu menjauh, karena aku sudah tau caranya mundur..."

Pelan Ichwan mengatakannya, tapi Chessy merasakan derit di hatinya yang tidak bisa berucap isi hati dan melihat Ichwan pergi dengan wajah masam. 

Apa yang kamu takutkan Chessy? Jatuh cinta pada salah satu pilihan? Atau dikhianati ketika kamu sudah memilih dia?

Lalu Chessy serasa semburat.

***
Hari hujan, Chessy membuat artikel jawaban dari seorang abg di rubrik majalah. Seorang abg yang galau menentukan ia akan menikah muda di usia 20an atau bekerja dulu dan menikah nanti. Chessy tertawa. Iya, dia dulu mencintai seseorang hingga ingin menikah selepas kuliah. Tapi lalu dia hancur karena ada sesuatu yang tidak bisa kamu pegang meskipun seberapa kuat kamu berusaha.... Takdir.

Chessy melihat ke arah jendela. Siapa jodoh saya ya Tuhan?

dan apakah sesusah ini untuk mempercayai takdir yang Kau beri?

Airmata menyeruak di pipinya.

Tangannya mengetik, "Percaya bahwa takdir akan membawa kamu ke rejeki yang baik ketika kamu menemukan seseorang yang ingin kamu miliki."

Lalu laptop ditutup oleh Chessy dan ia pergi.

Ia datang ke kantor Ichwan dengan membawa seporsi kotakan kebab frozen. Tidak tau ada angin apa, ia ingin membawa ini meski belum tau apa selera Ichwan,tapi ia merasa siapa sih engga suka kebab? siapa juga yang akan menolak makanan enak ini untuk sebuah perut lelaki? dan juga... hmm permintaan maaf.

Ia mencari Ichwan di kantor nya Esa Sampurna dan teman2 nya mengatakan siang lelaki itu biasa ngendon di rooftop. Ia naik ke lantai paling atas Esa Sampurna dan menemukan Ichwan di tengah gumpalan asap rokok. Sedangkan napas Chessy sudah wassalam capek.

"Hei!"
Yang dipanggil menoleh dan kaget hingga puntung rokoknya jatuh.

"Apa??"

Angin sedang bergerak kencang saat itu diatas rooftop, begitupula dengan helikopter pemilik gedung yang biasa putar balik Jakarta-Surabaya dg jet pribadi. 

Chessy menyodorkan kebabnya kepada Ichwan. "Ini buat mama kamu."

he mama kamu? Chessy menggigit bibirnya. Gengsi masih bertaut untuk mengatakan personal itu utk Ichwan.

Ichwan hanya menatap longo. Sambil menerima isi kebabnya. "Oke aku sampaikan."

Chessy membuka mulutnya perlahan. Iya ini dia Ches. Say that you want him.

"Bilang sama mama kamu, kalo aku ga mau nunggu dua tahun lagi."

Ichwan melongo. Sebagaimana ia belum ngeh dan peka.

Chessy membuka mulut lagi. "....maksudnya, kalo kamu yang datang utk melam... eh... ke rumah aku." Chessy memerah.

Ichwan juga.

Chessy lalu merasa ia terlalu agresif bicara seperti ini, lalu ia berbalik.

"Aku pergi dulu ya!!!"

Ichwan tidak mencegahnya. Ia hanya tersenyum di belakang Chessy.
"I will."
Chessy mendengarnya lamat diiringi desahan angin berhembus. Ia tersenyum manis. Lalu beranjak pergi kembali dari rooftop.

0 komentar:

Post a Comment

 

**Gregarious Angel** Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea